Lompat ke isi utama

Berita

8 Kilometer yang Menguji Nyali, Humas Bawaslu Tidore Menembus Medan Ekstrem Kaldera Talaga

Bawaslu Kota Tidore Kepulauan

Kegiatan pengawasan Bawaslu Kota Tidore Kepulauan di Dusun Talaga Gunung Kecamatan Tidore Utara Kota Tidore Kepulauan.

BAWASLU KOTA TIDORE- Delapan kilometer. Di atas kertas, jarak itu mungkin tidak terdengar terlalu jauh. Namun, ketika delapan kilometer tersebut harus ditempuh melalui jalan yang terjal, berliku, menanjak dan curam menuju kawasan Kaldera Talaga Gunung Tidore, perjalanan berubah menjadi tantangan yang menguji keberanian, ketahanan fisik, dan kesiapan.


Di medan seperti inilah seorang staf Humas Bawaslu Kota Tidore Kepulauan menjalankan tugasnya. Bukan di balik meja. Bukan hanya di depan komputer. Bukan sekadar menunggu laporan untuk kemudian diolah menjadi berita.


Kali ini, Humas harus turun langsung ke lapangan, mengikuti perjalanan jajaran Bawaslu dalam melaksanakan kerja pengawasan di wilayah yang membutuhkan perjuangan untuk mencapainya.


Jalan yang sempit dan ekstrem membuat perjalanan harus dilakukan dengan penuh kehati-hatian. Tanjakan dan turunan curam menjadi bagian dari rute. Sesekali kendaraan harus melambat untuk memastikan perjalanan tetap aman. Namun, tujuan tetap satu: memastikan setiap aktivitas pengawasan dapat terdokumentasi dengan baik.


Kamera menjadi salah satu perlengkapan yang tidak boleh tertinggal.
Setiap langkah, setiap aktivitas, dan setiap momen pengawasan diabadikan. Sebab, bagi Humas, apa yang terjadi di lapangan bukan hanya menjadi dokumentasi, tetapi juga bagian dari cerita kelembagaan yang harus disampaikan kepada masyarakat.


Di sinilah peran Humas menjadi penting.
Kerja pengawasan Bawaslu tidak cukup hanya dilakukan dan kemudian selesai. Masyarakat perlu mengetahui bahwa pengawasan dilakukan secara nyata, termasuk ketika tugas tersebut mengharuskan jajaran Bawaslu menembus medan yang sulit dan lokasi yang jauh dari pusat aktivitas masyarakat.


Humas hadir sebagai jembatan antara kerja pengawasan dan publik. Apa yang dilihat, didengar, dan ditemukan di lapangan menjadi bahan untuk disusun menjadi informasi yang faktual dan mudah dipahami. Foto dan video menjadi bukti visual. Catatan lapangan menjadi bahan informasi. Kemudian semuanya dirangkai menjadi sebuah cerita yang membawa kerja-kerja Bawaslu lebih dekat kepada masyarakat.


Perjalanan menuju Kaldera Talaga juga memperlihatkan bahwa kerja kehumasan bukan sekadar persoalan menulis berita atau mengunggah dokumentasi di media sosial.


Ada proses panjang di baliknya.
Ada perjalanan yang melelahkan. Ada medan yang menantang. Ada panas, debu, tanjakan, dan jalan yang curam. Namun, semua itu menjadi bagian dari tanggung jawab ketika Humas harus memastikan setiap kerja pengawasan memiliki dokumentasi dan informasi yang dapat dipertanggungjawabkan.


Delapan kilometer itu akhirnya bukan sekadar jarak.
Ia menjadi simbol bahwa kerja pengawasan Bawaslu tidak mengenal batas medan. Selama tugas menuntut kehadiran di lapangan, maka seluruh unsur pendukung kelembagaan harus siap bergerak.


Di satu sisi, jajaran pengawas menjalankan tugas memastikan proses demokrasi berjalan sesuai ketentuan. Di sisi lain, Humas memastikan kerja tersebut tercatat, terdokumentasi, dan diketahui masyarakat.


Dari lereng Gunung Tidore, dari kawasan Kaldera Talaga, kamera terus merekam.
Bukan sekadar gambar. Melainkan cerita tentang pengabdian, tentang kerja yang tidak selalu terlihat, dan tentang orang-orang yang memilih tetap berjalan meski medan tidak mudah.
 

Karena pada akhirnya, kerja Humas bukan hanya tentang bagaimana sebuah berita ditulis, tetapi tentang seberapa jauh ia bersedia berjalan untuk menemukan cerita di balik kerja pengawasan.


Dan hari itu, cerita tersebut ditemukan setelah menempuh delapan kilometer yang menguji nyali.

 

Staf HUmas Bawaslu Kota Tidore Kepulauan
Ramli M. Ade (Staf Humas Bawaslu Kota Tidore Kepulauan)

Peliput/Editor: Ramli M. Ade

Foto: Ramli M. Ade